Langsung ke konten utama

Postingan

Labirin yang Wangi Melati 2

Jemariku menari lincah di atas papan ketik virtual, mengetikkan baris kalimat: “Nggak apa-apa kok. Ini aku baru selesai bagi-bagi takjil bareng anak-anak kelas. Kamu udah makan?” Tombol send kutekan. Detik itu juga, kehangatan semu kembali menjalar di dadaku, menyapu bersih sisa-sisa kecemasan yang sempat menyiksaku selama berjam-jam tadi. Aku mengunci layar ponsel, lalu memasukkannya kembali ke saku celana jins dengan senyum tipis yang tak bisa kusembunyikan.  Namun, begitu aku mengangkat wajah, senyum itu langsung membeku. Tian masih di sana, duduk di atas pembatas jalan dengan botol air mineral yang masih penuh di genggamannya. Dia tidak sedang menatap lampu lalu lintas lagi. Matanya tertuju lurus padaku, menyaksikan bagaimana seluruh raut wajahku berubah drastis hanya karena satu getaran pendek dari ponsel. Ada riak kekecewaan yang samar di sana—jenis kekecewaan dari seorang sahabat yang menyadari bahwa posisinya telah digantikan oleh sesuatu yang asing. "Udah beres nunggun...
Postingan terbaru

Labirin yang Wangi Melati

Balasan dariku sore itu ternyata menjadi kunci pembuka pintu yang selama ini kupasang palang besi. Hanya dalam hitungan detik, ponselku kembali bergetar. Satu pesan, lalu dua, lalu rentetan kalimat yang membuat layar ponselku terus menyala terang, kontras dengan koridor Gedung Teknik yang mulai temaram karena ditinggalkan teman-temanku. “Nggak apa-apa, Lintang. Aku yang minta maaf karena waktu itu terlalu kekanak-kanakan sampai blokir kamu. Aku cuma nggak tahu cara menghadapi rasa kecewa karena pesanku nggak dibalas.” Kalimatnya terasa seperti obat penenang yang manis. Dia tidak menyalahkanku secara langsung, tapi dia sedang meletakkan beban rasa kecewa itu tepat di pundakku. Dan aku, dengan segala rasa bersalah yang sudah menumpuk setahun lamanya, menerimanya dengan tangan terbuka. Aku merasa seperti baru saja menemukan kembali barang berharga yang sempat hilang, tanpa sadar bahwa barang itu sebenarnya sudah cacat sejak awal. Hari-hari berikutnya, poros duniaku perlahan bergeser...

Ketukan dari Masa Lalu yang Berdebu

Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku ingin mampir sebentar menemui diriku saat itu. Saat aku memutuskan membalas pesannya yang ternyata adalah seutas benang untuk mulai merajut lukaku sendiri. Sore itu, koridor lantai satu Gedung Fakultas Teknik terasa seperti ruang yang kehabisan napas. Aroma sirup cocopandan dan gurihnya minyak goreng dari takjil yang dibeli teman-temanku, berebut ruang dengan bau tumpukan kertas laporan yang apak. Di ujung lorong, cahaya senja menyusup melalui jendela besar yang buram oleh debu, menciptakan garis-garis jingga yang lelah di atas lantai tegel yang dingin. Sama lelahnya dengan wajah teman-temanku; mereka yang sejak pagi berkutat dengan komponen-komponen kecil, dan sorenya masih harus mengurus persiapan acara bakti sosial jurusan. Aku, Lintang. Duduk bersandar pada kursi plastik yang salah satu kakinya sudah mulai goyah. Di depanku, meja panjang dipenuhi gunungan gorengan dan tumpukan selebaran yang harus segera didistribusikan. Sebagai mahasiswa ...

Mungkin, lain waktu (Judulnya) P2

Dan sejak hari itu, pelan-pelan aku mulai belajar hidup tanpa terus menunggu seseorang datang untuk menyelamatkanku dari rasa sepi. Awalnya aneh. Karena selama ini aku terbiasa menganggap kebahagiaan itu akan lengkap kalau ada seseorang di sampingku. Aku pikir semua rasa kosong ini akan hilang kalau suatu hari ada yang bilang, “aku memilih kamu.” Tapi ternyata hidup tidak sesederhana itu. Aku pernah berada di fase di mana aku mencoba membuka hati hanya karena takut sendirian. Aku menerima perhatian kecil seolah itu cinta besar. Aku bertahan di percakapan-percakapan yang sebenarnya membuatku lelah hanya karena aku takut kehilangan kesempatan untuk akhirnya “punya seseorang.” Dan lucunya, semakin aku memaksa mencari cinta, semakin aku kehilangan diriku sendiri. Aku jadi orang yang terlalu banyak mengerti, terlalu banyak memaafkan, terlalu banyak menyesuaikan diri. Sampai suatu titik aku sadar… kenapa aku terus berusaha menjadi cukup untuk orang lain, tapi tidak pernah merasa cukup untuk ...

Mungkin, lain waktu (Judulnya) P1

Ada masa di hidupku ketika aku merasa cinta adalah sesuatu yang selalu datang untuk orang lain, tapi entah kenapa melewatkanku begitu saja. Aku melihat orang-orang di sekitarku memiliki seseorang untuk diceritakan, dipeluk, atau sekedar dijadikan tempat pulang setelah hari yang panjang. Sementara aku? Aku berjalan sendiri. Kadang aku berpikir mungkin hidupku memang bukan tipe cerita romantis seperti di film-film. Tidak ada pertemuan ajaib, tidak ada seseorang yang datang membawa kepastian, tidak ada hubungan yang membuatku merasa benar-benar dipilih. Yang ada hanya aku, dengan segala pertanyaan yang semakin lama semakin sulit dijawab. “Aku belum pernah benar-benar merasakan dicintai dalam hubungan yang utuh,” kalimat itu pernah keluar begitu saja dari mulutku. Dan seperti biasa, orang-orang menanggapinya dengan heran. Ada yang bilang aku terlalu pemilih, ada yang bilang aku terlalu jelek, ada juga yang mencoba menghiburku dengan mengatakan bahwa cinta akan datang di waktu yang tepat. T...

Lembaran Untuk Rohim

Ibuku hanyalah seorang asisten rumah tangga. Setiap bulan ia menerima gaji enam ratus ribu rupiah. Jumlah itu kecil—bahkan mungkin habis hanya untuk sekali makan malam di restoran mewah bagi sebagian orang. Namun dengan uang itulah, ibu menanggung hidup kami bertiga: dirinya sendiri, aku, dan adikku.  Aku selalu kagum melihat cara ibu mengatur setiap rupiah. Tidak ada uang yang dianggap sepele. Belanja di warung, membayar angkot, bahkan uang kembalian sekecil apa pun selalu ia perhatikan. Koin-koin logam seratus dan dua ratus yang sering ditolak warung karena dianggap tak laku, ia kumpulkan dengan sabar. Bunyi denting logam itu memenuhi sebuah toples plastik bekas biskuit di atas lemari dapur. “Untuk apa sih, Bu, nyimpen receh receh itu? Nggak bisa dipakai belanja juga kan?” tanyaku suatu sore.  Ibu menoleh sebentar, senyum tipis terbit di wajahnya. “Kalau sudah banyak, bisa ditukar jadi lembaran. Dan lembaran itu buat Rohim.” Aku diam. Nama itu bukan asing. Rohim adalah penga...

Sedikit Terlambat untuk Menjadi Kita

Apa kabar? Entah kau pernah benar-benar bertanya kabarku atau tidak, tapi hari ini aku ingin menuliskan sesuatu yang tak sempat kusampaikan dulu.  Kita tidak pernah benar-benar menjadi apa pun, ya? Bukan teman, bukan kekasih, hanya dua orang yang saling menunggu tapi tak pernah benar-benar saling mendekat. Kita seperti dua garis lurus—berjalan beriringan, tapi tak pernah saling bersinggungan.  Delapan bulan. Kita bicara hampir setiap hari. Tapi tak satu pun kata itu yang benar-benar memberi kejelasan. Tidak ada “sayang”, tidak ada “aku rindu”, hanya percakapan basa-basi yang diam-diam menyusup jadi harapan. Dan bodohnya aku, berharap dari kata yang tidak pernah mengarah. Aku menaruh hati di Tengah-tengah antara candamu yang lucu dan sikapmu yang cuek. Aku menaruh hati pada seseorang yang tidak pernah benar-benar menggenggamnya. Saat aku mulai lelah menggantungkan rasa, aku memberanikan diri bertanya: “Hubungan ini…mau dibawa ke mana?” Dan Jawabanmu masih sama: “Aku belum tahu....