Jemariku menari lincah di atas papan ketik virtual, mengetikkan baris kalimat: “Nggak apa-apa kok. Ini aku baru selesai bagi-bagi takjil bareng anak-anak kelas. Kamu udah makan?” Tombol send kutekan. Detik itu juga, kehangatan semu kembali menjalar di dadaku, menyapu bersih sisa-sisa kecemasan yang sempat menyiksaku selama berjam-jam tadi. Aku mengunci layar ponsel, lalu memasukkannya kembali ke saku celana jins dengan senyum tipis yang tak bisa kusembunyikan. Namun, begitu aku mengangkat wajah, senyum itu langsung membeku. Tian masih di sana, duduk di atas pembatas jalan dengan botol air mineral yang masih penuh di genggamannya. Dia tidak sedang menatap lampu lalu lintas lagi. Matanya tertuju lurus padaku, menyaksikan bagaimana seluruh raut wajahku berubah drastis hanya karena satu getaran pendek dari ponsel. Ada riak kekecewaan yang samar di sana—jenis kekecewaan dari seorang sahabat yang menyadari bahwa posisinya telah digantikan oleh sesuatu yang asing. "Udah beres nunggun...
Balasan dariku sore itu ternyata menjadi kunci pembuka pintu yang selama ini kupasang palang besi. Hanya dalam hitungan detik, ponselku kembali bergetar. Satu pesan, lalu dua, lalu rentetan kalimat yang membuat layar ponselku terus menyala terang, kontras dengan koridor Gedung Teknik yang mulai temaram karena ditinggalkan teman-temanku. “Nggak apa-apa, Lintang. Aku yang minta maaf karena waktu itu terlalu kekanak-kanakan sampai blokir kamu. Aku cuma nggak tahu cara menghadapi rasa kecewa karena pesanku nggak dibalas.” Kalimatnya terasa seperti obat penenang yang manis. Dia tidak menyalahkanku secara langsung, tapi dia sedang meletakkan beban rasa kecewa itu tepat di pundakku. Dan aku, dengan segala rasa bersalah yang sudah menumpuk setahun lamanya, menerimanya dengan tangan terbuka. Aku merasa seperti baru saja menemukan kembali barang berharga yang sempat hilang, tanpa sadar bahwa barang itu sebenarnya sudah cacat sejak awal. Hari-hari berikutnya, poros duniaku perlahan bergeser...