Ada masa di hidupku ketika aku merasa cinta adalah sesuatu yang selalu datang untuk orang lain, tapi entah kenapa melewatkanku begitu saja. Aku melihat orang-orang di sekitarku memiliki seseorang untuk diceritakan, dipeluk, atau sekedar dijadikan tempat pulang setelah hari yang panjang. Sementara aku? Aku berjalan sendiri.
Kadang aku berpikir mungkin hidupku memang bukan tipe cerita romantis seperti di film-film. Tidak ada pertemuan ajaib, tidak ada seseorang yang datang membawa kepastian, tidak ada hubungan yang membuatku merasa benar-benar dipilih. Yang ada hanya aku, dengan segala pertanyaan yang semakin lama semakin sulit dijawab.
“Aku belum pernah benar-benar merasakan dicintai dalam hubungan yang utuh,” kalimat itu pernah keluar begitu saja dari mulutku. Dan seperti biasa, orang-orang menanggapinya dengan heran. Ada yang bilang aku terlalu pemilih, ada yang bilang aku terlalu jelek, ada juga yang mencoba menghiburku dengan mengatakan bahwa cinta akan datang di waktu yang tepat.
Tapi semakin sering mendengarnya, semakin aku mempertanyakan diriku sendiri.
Apakah aku terlalu sulit dipahami?
Apakah aku terlalu mandiri sampai terlihat tidak membutuhkan siapa-siapa?
Apakah aku kurang lembut? Kurang menarik?
Atau mungkin… aku emang belum cukup pantas untuk dicintai?
Pertanyaan-pertanyaan itu tumbuh diam-diam di kepalaku. Dan tanpa sadar, aku mulai melihat diriku dari sudut pandang yang kejam. Aku mencari kekurangan di setiap bagian diriku sendiri, seolah semua alasan kenapa cinta belum datang pasti ada hubungannya denganku.
Sampai akhirnya aku lelah.
Lelah menunggu.
Lelah membandingkan hidupku dengan orang lain.
Lelah merasa tertinggal hanya karena belum punya kisah cinta seperti yang sering diceritakan dunia.
Lalu untuk pertama kalinya, aku mencoba berhenti mencari jawaban dari orang lain.
Aku duduk dengan pikiranku sendiri dan bertanya:
“Kenapa aku menganggap cinta romantis sebagai satu-satunya bentuk bahwa hidupku berharga?”
Dan pertanyaan itu mengubah banyak hal.
Aku mulai sadar bahwa selama ini aku terlalu fokus pada cinta yang belum datang, sampai lupa bahwa aku masih hidup di tengah begitu banyak bentuk kasih sayang lainnya.
Aku lupa bahwa bertahan sejauh ini juga bentuk cinta.
Bahwa merawat diri sendiri di hari-hari buruk adalah cinta.
Bahwa tetap percaya hidup akan baik-baik saja meski sering merasa kesepian juga cinta.
Mungkin aku memang belum dipertemukan dengan seseorang yang bisa membuatku merasa dipilih sepenuhnya. Mungkin kisah itu belum datang hari ini.
Tapi untuk sekarang, aku tidak ingin lagi mengukur nilai diriku dari siapa yang datang atau pergi. Aku tidak ingin lagi merasa gagal hanya karena hidupku tidak berjalan seperti cerita romantis kebanyakan.
Karena ternyata, cinta bukan hanya tentang memiliki seseorang. Kadang cinta adalah tentang tetap menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri, bahkan ketika tidak ada siapa-siapa yang menyaksikannya.
Komentar
Posting Komentar