Langsung ke konten utama

Mungkin, lain waktu (Judulnya) P1

Ada masa di hidupku ketika aku merasa cinta adalah sesuatu yang selalu datang untuk orang lain, tapi entah kenapa melewatkanku begitu saja. Aku melihat orang-orang di sekitarku memiliki seseorang untuk diceritakan, dipeluk, atau sekedar dijadikan tempat pulang setelah hari yang panjang. Sementara aku? Aku berjalan sendiri.

Kadang aku berpikir mungkin hidupku memang bukan tipe cerita romantis seperti di film-film. Tidak ada pertemuan ajaib, tidak ada seseorang yang datang membawa kepastian, tidak ada hubungan yang membuatku merasa benar-benar dipilih. Yang ada hanya aku, dengan segala pertanyaan yang semakin lama semakin sulit dijawab.

“Aku belum pernah benar-benar merasakan dicintai dalam hubungan yang utuh,” kalimat itu pernah keluar begitu saja dari mulutku. Dan seperti biasa, orang-orang menanggapinya dengan heran. Ada yang bilang aku terlalu pemilih, ada yang bilang aku terlalu jelek, ada juga yang mencoba menghiburku dengan mengatakan bahwa cinta akan datang di waktu yang tepat.

Tapi semakin sering mendengarnya, semakin aku mempertanyakan diriku sendiri.

Apakah aku terlalu sulit dipahami?

Apakah aku terlalu mandiri sampai terlihat tidak membutuhkan siapa-siapa?

Apakah aku kurang lembut? Kurang menarik?

Atau mungkin… aku emang belum cukup pantas untuk dicintai?

Pertanyaan-pertanyaan itu tumbuh diam-diam di kepalaku. Dan tanpa sadar, aku mulai melihat diriku dari sudut pandang yang kejam. Aku mencari kekurangan di setiap bagian diriku sendiri, seolah semua alasan kenapa cinta belum datang pasti ada hubungannya denganku.

Sampai akhirnya aku lelah.

Lelah menunggu.

Lelah membandingkan hidupku dengan orang lain.

Lelah merasa tertinggal hanya karena belum punya kisah cinta seperti yang sering diceritakan dunia.

Lalu untuk pertama kalinya, aku mencoba berhenti mencari jawaban dari orang lain.

Aku duduk dengan pikiranku sendiri dan bertanya:

“Kenapa aku menganggap cinta romantis sebagai satu-satunya bentuk bahwa hidupku berharga?”

Dan pertanyaan itu mengubah banyak hal.

Aku mulai sadar bahwa selama ini aku terlalu fokus pada cinta yang belum datang, sampai lupa bahwa aku masih hidup di tengah begitu banyak bentuk kasih sayang lainnya.

Aku lupa bahwa bertahan sejauh ini juga bentuk cinta.

Bahwa merawat diri sendiri di hari-hari buruk adalah cinta.

Bahwa tetap percaya hidup akan baik-baik saja meski sering merasa kesepian juga cinta.

Mungkin aku memang belum dipertemukan dengan seseorang yang bisa membuatku merasa dipilih sepenuhnya. Mungkin kisah itu belum datang hari ini.

Tapi untuk sekarang, aku tidak ingin lagi mengukur nilai diriku dari siapa yang datang atau pergi. Aku tidak ingin lagi merasa gagal hanya karena hidupku tidak berjalan seperti cerita romantis kebanyakan.

Karena ternyata, cinta bukan hanya tentang memiliki seseorang. Kadang cinta adalah tentang tetap menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri, bahkan ketika tidak ada siapa-siapa yang menyaksikannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkin, lain waktu (Judulnya) P2

Dan sejak hari itu, pelan-pelan aku mulai belajar hidup tanpa terus menunggu seseorang datang untuk menyelamatkanku dari rasa sepi. Awalnya aneh. Karena selama ini aku terbiasa menganggap kebahagiaan itu akan lengkap kalau ada seseorang di sampingku. Aku pikir semua rasa kosong ini akan hilang kalau suatu hari ada yang bilang, “aku memilih kamu.” Tapi ternyata hidup tidak sesederhana itu. Aku pernah berada di fase di mana aku mencoba membuka hati hanya karena takut sendirian. Aku menerima perhatian kecil seolah itu cinta besar. Aku bertahan di percakapan-percakapan yang sebenarnya membuatku lelah hanya karena aku takut kehilangan kesempatan untuk akhirnya “punya seseorang.” Dan lucunya, semakin aku memaksa mencari cinta, semakin aku kehilangan diriku sendiri. Aku jadi orang yang terlalu banyak mengerti, terlalu banyak memaafkan, terlalu banyak menyesuaikan diri. Sampai suatu titik aku sadar… kenapa aku terus berusaha menjadi cukup untuk orang lain, tapi tidak pernah merasa cukup untuk ...

Sedikit Terlambat untuk Menjadi Kita

Apa kabar? Entah kau pernah benar-benar bertanya kabarku atau tidak, tapi hari ini aku ingin menuliskan sesuatu yang tak sempat kusampaikan dulu.  Kita tidak pernah benar-benar menjadi apa pun, ya? Bukan teman, bukan kekasih, hanya dua orang yang saling menunggu tapi tak pernah benar-benar saling mendekat. Kita seperti dua garis lurus—berjalan beriringan, tapi tak pernah saling bersinggungan.  Delapan bulan. Kita bicara hampir setiap hari. Tapi tak satu pun kata itu yang benar-benar memberi kejelasan. Tidak ada “sayang”, tidak ada “aku rindu”, hanya percakapan basa-basi yang diam-diam menyusup jadi harapan. Dan bodohnya aku, berharap dari kata yang tidak pernah mengarah. Aku menaruh hati di Tengah-tengah antara candamu yang lucu dan sikapmu yang cuek. Aku menaruh hati pada seseorang yang tidak pernah benar-benar menggenggamnya. Saat aku mulai lelah menggantungkan rasa, aku memberanikan diri bertanya: “Hubungan ini…mau dibawa ke mana?” Dan Jawabanmu masih sama: “Aku belum tahu....