Jemariku menari lincah di atas papan ketik virtual, mengetikkan baris kalimat: “Nggak apa-apa kok. Ini aku baru selesai bagi-bagi takjil bareng anak-anak kelas. Kamu udah makan?” Tombol send kutekan. Detik itu juga, kehangatan semu kembali menjalar di dadaku, menyapu bersih sisa-sisa kecemasan yang sempat menyiksaku selama berjam-jam tadi. Aku mengunci layar ponsel, lalu memasukkannya kembali ke saku celana jins dengan senyum tipis yang tak bisa kusembunyikan. Namun, begitu aku mengangkat wajah, senyum itu langsung membeku. Tian masih di sana, duduk di atas pembatas jalan dengan botol air mineral yang masih penuh di genggamannya. Dia tidak sedang menatap lampu lalu lintas lagi. Matanya tertuju lurus padaku, menyaksikan bagaimana seluruh raut wajahku berubah drastis hanya karena satu getaran pendek dari ponsel. Ada riak kekecewaan yang samar di sana—jenis kekecewaan dari seorang sahabat yang menyadari bahwa posisinya telah digantikan oleh sesuatu yang asing. "Udah beres nunggun...
banyak makna diantara tulisan sederhana