Aku pernah berpikir bahwa yang menjaga seseorang adalah pagar yang tinggi, kamera pengawas, atau tangan manusia yang menggenggam erat. Tapi ternyata bukan itu, kadang yang paling setia menjaga justru hal yang tidak terlihat mata: doa. Doa itu sunyi. Ia tidak datang dengan suara keras, tidak memaksa untuk didengar. Tapi ia berjalan diam-diam, menyusuri malam-malam panjang, mencari celah langit lalu mengetuk hati Tuhan dengan nama kita. Doa adalah saat ibuku menyebut namaku dalam sujudnya. Doa adalah suara lirih yang bilang “Ya Allah, cukupkan aku,” di saat aku tidak tahu harus makan pakai apa besok pagi. Doa adalah sesuatu yang tidak pernah kusadari datang, tapi selalu kutemukan hasilnya. Pernah suatu hari, aku hampir menyerah. Rasanya semua pintu tertutup. Tapi entah bagaimana, ada satu jalan kecil yang terbuka pelan. Dan aku tahu...itu bukan karena aku hebat. Tapi karena ada doa yang sampai lebih dulu ke sana. Kadang aku merasa dunia tidak adil, waktu tidak cukup, dan beban terlalu be...
banyak makna diantara tulisan sederhana