Langsung ke konten utama

Peran Penjaga yang Tidak Terlihat

Aku pernah berpikir bahwa yang menjaga seseorang adalah pagar yang tinggi, kamera pengawas, atau tangan manusia yang menggenggam erat. Tapi ternyata bukan itu, kadang yang paling setia menjaga justru hal yang tidak terlihat mata: doa. Doa itu sunyi. Ia tidak datang dengan suara keras, tidak memaksa untuk didengar. Tapi ia berjalan diam-diam, menyusuri malam-malam panjang, mencari celah langit lalu mengetuk hati Tuhan dengan nama kita.

Doa adalah saat ibuku menyebut namaku dalam sujudnya. Doa adalah suara lirih yang bilang “Ya Allah, cukupkan aku,” di saat aku tidak tahu harus makan pakai apa besok pagi. Doa adalah sesuatu yang tidak pernah kusadari datang, tapi selalu kutemukan hasilnya. Pernah suatu hari, aku hampir menyerah. Rasanya semua pintu tertutup. Tapi entah bagaimana, ada satu jalan kecil yang terbuka pelan. Dan aku tahu...itu bukan karena aku hebat. Tapi karena ada doa yang sampai lebih dulu ke sana.

Kadang aku merasa dunia tidak adil, waktu tidak cukup, dan beban terlalu berat. Tapi setiap kali aku kembali pulih, kembali kuat—aku yakin, itu bukan semata-mata dari diriku. Itu karena ada doa yang berdiri di belakangku. Mendorongku maju. Memapahku saat jatuh. Menemani aku bertumbuh. Doa tidak pernah minta balas. Ia tidak menagih. Tidak marah kalau dilupakan. Tapi tanpanya, kita mungkin tidak akan pernah sampai ke titik ini.

Jadi hari ini, jika ada yang pantas kusebut sebagai penjaga, maka itu bukan hanya ibu, bukan hanya sahabat atau waktu. Tapi doa. Ia penjaga yang tidak pernah tertidur, tidak pernah menuntut, tapi selalu ada...—bahkan saat aku tak pernah menyebutnya lagi. Dan di atas semua itu, ada Yang Maha Mendengar—yang diam-diam mengabulkan doa- doa itu, bahkan saat aku lupa memintanya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkin, lain waktu (Judulnya) P1

Ada masa di hidupku ketika aku merasa cinta adalah sesuatu yang selalu datang untuk orang lain, tapi entah kenapa melewatkanku begitu saja. Aku melihat orang-orang di sekitarku memiliki seseorang untuk diceritakan, dipeluk, atau sekedar dijadikan tempat pulang setelah hari yang panjang. Sementara aku? Aku berjalan sendiri. Kadang aku berpikir mungkin hidupku memang bukan tipe cerita romantis seperti di film-film. Tidak ada pertemuan ajaib, tidak ada seseorang yang datang membawa kepastian, tidak ada hubungan yang membuatku merasa benar-benar dipilih. Yang ada hanya aku, dengan segala pertanyaan yang semakin lama semakin sulit dijawab. “Aku belum pernah benar-benar merasakan dicintai dalam hubungan yang utuh,” kalimat itu pernah keluar begitu saja dari mulutku. Dan seperti biasa, orang-orang menanggapinya dengan heran. Ada yang bilang aku terlalu pemilih, ada yang bilang aku terlalu jelek, ada juga yang mencoba menghiburku dengan mengatakan bahwa cinta akan datang di waktu yang tepat. T...

Mungkin, lain waktu (Judulnya) P2

Dan sejak hari itu, pelan-pelan aku mulai belajar hidup tanpa terus menunggu seseorang datang untuk menyelamatkanku dari rasa sepi. Awalnya aneh. Karena selama ini aku terbiasa menganggap kebahagiaan itu akan lengkap kalau ada seseorang di sampingku. Aku pikir semua rasa kosong ini akan hilang kalau suatu hari ada yang bilang, “aku memilih kamu.” Tapi ternyata hidup tidak sesederhana itu. Aku pernah berada di fase di mana aku mencoba membuka hati hanya karena takut sendirian. Aku menerima perhatian kecil seolah itu cinta besar. Aku bertahan di percakapan-percakapan yang sebenarnya membuatku lelah hanya karena aku takut kehilangan kesempatan untuk akhirnya “punya seseorang.” Dan lucunya, semakin aku memaksa mencari cinta, semakin aku kehilangan diriku sendiri. Aku jadi orang yang terlalu banyak mengerti, terlalu banyak memaafkan, terlalu banyak menyesuaikan diri. Sampai suatu titik aku sadar… kenapa aku terus berusaha menjadi cukup untuk orang lain, tapi tidak pernah merasa cukup untuk ...

Sedikit Terlambat untuk Menjadi Kita

Apa kabar? Entah kau pernah benar-benar bertanya kabarku atau tidak, tapi hari ini aku ingin menuliskan sesuatu yang tak sempat kusampaikan dulu.  Kita tidak pernah benar-benar menjadi apa pun, ya? Bukan teman, bukan kekasih, hanya dua orang yang saling menunggu tapi tak pernah benar-benar saling mendekat. Kita seperti dua garis lurus—berjalan beriringan, tapi tak pernah saling bersinggungan.  Delapan bulan. Kita bicara hampir setiap hari. Tapi tak satu pun kata itu yang benar-benar memberi kejelasan. Tidak ada “sayang”, tidak ada “aku rindu”, hanya percakapan basa-basi yang diam-diam menyusup jadi harapan. Dan bodohnya aku, berharap dari kata yang tidak pernah mengarah. Aku menaruh hati di Tengah-tengah antara candamu yang lucu dan sikapmu yang cuek. Aku menaruh hati pada seseorang yang tidak pernah benar-benar menggenggamnya. Saat aku mulai lelah menggantungkan rasa, aku memberanikan diri bertanya: “Hubungan ini…mau dibawa ke mana?” Dan Jawabanmu masih sama: “Aku belum tahu....