Ibuku hanyalah seorang asisten rumah tangga. Setiap bulan ia menerima gaji enam ratus ribu rupiah. Jumlah itu kecil—bahkan mungkin habis hanya untuk sekali makan malam di restoran mewah bagi sebagian orang. Namun dengan uang itulah, ibu menanggung hidup kami bertiga: dirinya sendiri, aku, dan adikku. Aku selalu kagum melihat cara ibu mengatur setiap rupiah. Tidak ada uang yang dianggap sepele. Belanja di warung, membayar angkot, bahkan uang kembalian sekecil apa pun selalu ia perhatikan. Koin-koin logam seratus dan dua ratus yang sering ditolak warung karena dianggap tak laku, ia kumpulkan dengan sabar. Bunyi denting logam itu memenuhi sebuah toples plastik bekas biskuit di atas lemari dapur. “Untuk apa sih, Bu, nyimpen receh receh itu? Nggak bisa dipakai belanja juga kan?” tanyaku suatu sore. Ibu menoleh sebentar, senyum tipis terbit di wajahnya. “Kalau sudah banyak, bisa ditukar jadi lembaran. Dan lembaran itu buat Rohim.” Aku diam. Nama itu bukan asing. Rohim adalah penga...
banyak makna diantara tulisan sederhana