Langsung ke konten utama

Labirin yang Wangi Melati 2

Jemariku menari lincah di atas papan ketik virtual, mengetikkan baris kalimat: “Nggak apa-apa kok. Ini aku baru selesai bagi-bagi takjil bareng anak-anak kelas. Kamu udah makan?”

Tombol send kutekan. Detik itu juga, kehangatan semu kembali menjalar di dadaku, menyapu bersih sisa-sisa kecemasan yang sempat menyiksaku selama berjam-jam tadi. Aku mengunci layar ponsel, lalu memasukkannya kembali ke saku celana jins dengan senyum tipis yang tak bisa kusembunyikan. Namun, begitu aku mengangkat wajah, senyum itu langsung membeku.


Tian masih di sana, duduk di atas pembatas jalan dengan botol air mineral yang masih penuh di genggamannya. Dia tidak sedang menatap lampu lalu lintas lagi. Matanya tertuju lurus padaku, menyaksikan bagaimana seluruh raut wajahku berubah drastis hanya karena satu getaran pendek dari ponsel. Ada riak kekecewaan yang samar di sana—jenis kekecewaan dari seorang sahabat yang menyadari bahwa posisinya telah digantikan oleh sesuatu yang asing.


"Udah beres nunggunya?" tanya Tian, suaranya terdengar lebih datar dari biasanya.


Aku menelan ludah, mendadak merasa kikuk. "Eh, iya, an. Ini... donatur tadi akhirnya balas."

Tian tidak langsung merespons. Dia hanya mengembuskan napas panjang, lalu meneguk air mineralnya sedikit. Dia tidak mendebat kebohonganku yang payah. Tian terlalu pintar untuk tidak menyadari bahwa ekspresi lega yang baru saja kutunjukkan bukanlah ekspresi seorang mahasiswa yang sedang mengurus donatur bakti sosial. Yang sudah jelas-jelas penggalangan dana sudah ditutup, aku merasa sangat tidak terampil dalam berbohong pada saat itu.


"Ya udah, kalau udah selesai, diabisin dulu takjilnya. Keburu makin dingin, nanti nggak enak," kata Tian sambil berdiri dari pembatas jalan. Dia membersihkan bagian belakang celananya yang terkena debu jalanan, lalu berjalan mendekati motor Varionya. "Anak-anak yang lain pasti udah pada kumpul di masjid buat buka puasa bareng. Kita balik sekarang?"


"Iya, yuk. Balik sekarang aja," jawabku buru-buru, menyembunyikan rasa bersalah yang kembali mencubit ulu hati.


Sepanjang perjalanan kembali ke kampus, keheningan di antara kami terasa berbeda. Deru mesin Vario Tian dan bisingnya jalanan Jakarta yang mulai melonggar seolah meredam percakapan yang biasanya mengalir begitu saja. Aku menatap punggung Tian yang dibalut jaket wibunya. Laki-laki ini selalu ada di sana—mengorbankan waktu, bensin, dan jalur pulangnya yang memutar demi memastikanku tidak pulang sendirian di tengah kerasnya Jakarta. Dia adalah kepastian yang nyata.


Namun ego dan kesepian di dalam kepalaku justru memilih untuk mengejar bayang-bayang.


Sesampainya di pelataran masjid kampus, suasana sudah ramai oleh tawa teman-teman kelasku yang sedang menikmati nasi kotak berbuka. Danti langsung menyambut kami dengan heboh, menanyakan bagaimana situasi di lampu merah utama tadi. Aku mencoba melebur dalam keriuhan itu, ikut tertawa dan menanggapi cerita mereka tentang kelancaran acara kami.


Malam itu, setelah seluruh atribut bakti sosial dirapikan, Tian mengantarku pulang seperti biasa. Begitu motornya berhenti di depan pagar rumahku, aku turun dan menyodorkan helm kepadanya.


"Makasih ya, an, buat hari ini. Makasih udah ditemenin juga," ucapku tulus.


Tian menerima helm itu, mengaitkannya di sangkutan dekat dasbor motor, lalu menatapku. Di bawah pendar lampu jalan yang kuning dan temaram, sorot matanya tampak begitu lelah—menurutku bukan karena lelah fisik setelah mengangkut kardus sembako, melainkan jenis lelah yang datang dari hati yang mulai menyadari batasan dirinya.


"Sama-sama, Lin," jawab Tian pelan. Dia menyalakan kembali mesin motornya, namun sebelum menarik gas, dia sempat menahan gerakannya sebentar. "Lin... aku nggak tahu siapa atau apa yang lagi kamu tungguin belakangan ini. Tapi tolong, jangan sampai apa pun itu bikin kamu lupa caranya jalan pulang ke diri kamu sendiri."


Sebelum aku sempat mencerna kalimatnya, Tian sudah menarik gas varionya, membelah malam Jakarta yang semakin larut dan meninggalkanku sendirian di depan rumah.


Aku terpaku. Kalimat Tian menghantamku telak. Aku membalikkan ponsel di genggamanku, menatap layarnya yang kembali menyala menampilkan notifikasi balasan baru dari nomor tanpa nama itu. Wangi melati di dalam labirin ini terasa semakin pekat dan memabukkan, menutupi fakta bahwa langkahku sudah terlalu jauh, dan peringatan Tian malam itu mungkin adalah kompas terakhir yang sengaja kuabaikan.


Sebenarnya kalau dihitung-hitung, rute rumah Tian sama rumahku itu arahnya berlawanan jauh banget. Dia harus membelah macetnya Jakarta hampir sejam lebih cuma buat memastikan aku pulang dengan aman. Dan tiap kali aku menyodorkan uang patungan bensin, Tian selalu nolak mentah-mentah. Tian kayak tahu tanpa perlu aku cerita kalau beberapa ribu rupiah yang dia hemat buat aku tiap hari itu berarti banget. Uang segitu bisa buat tambahan ongkos adek yang sekarang masih duduk di bangku SMA, dan bisa buat jajan aku di kampus esok harinya. Aku di beri ongkos oleh ibuku lima puluh ribu untuk tiga hari, terlihat cukup besar nominal segitu tapi kalo kalian tau teman-teman ku sehari saja ongkosnya bisa tiga puluh lima ribu bahkan mereka tidak usah repot-repot memikirkan tangki bensin motornya merah karena urusan bensin menjadi urusan ayahnya. 


Aku tahu diri, kondisi kelas keluargaku nggak pening-pening amat buat sok gengsi. Sejak ayah pergi meninggalkan kami tanpa pamit bertahun-tahun lalu, ibu berjuang sendiri jadi asisten rumah tangga. Tiap hari ibu berangkat jam tujuh pagi ke perumahan elite buat nyuci dan beres-beres rumah orang, pulang siang hari dengan kaki yang sering pincang karena kecapekan.


Kebaikan-kebaikan kecil Tian yang nyata ini harusnya bikin aku sadar siapa orang yang beneran peduli. Tapi malam itu, pikiranku nggak ada di sana.


Aku menghembuskan napas panjang, lalu membuka pintu rumah dengan pelan. Rumah udah sepi. Ibu pasti udah tidur di kamar karena badannya remuk kalau cucian majikannya menumpuk dan rumah dengan tiga lantai yang harus di sapu dan pel setiap hari. Sementara dari kamar adek cuma kedengeran lamat-lamat suara dia lagi menghafal materi pelajaran buat ujian SMA-nya besok senin. Rumah ini emang selalu terasa terlalu lapang dan sunyi sejak kehilangan sosok ayah.


Kekosongan itu yang bikin aku langsung jalan cepet ke kamar, melempar tas kuliah ke lantai, dan merebahkan diri di kasur. Aku merogoh kantong jins, menyalakan layar HP dengan gerakan buru-buru. Rasa bersalah ke Tian langsung hilang pas ngelihat satu notifikasi masuk.


“Maaf baru balas, aku ketiduran lagi. Kamu lagi apa?”


Cuma kalimat kasual begitu. Tapi buat aku yang tumbuh di rumah yang sepi dan selalu merasa nggak cukup penting buat dipertahankan, pesan itu rasanya kayak validasi berharga. Aku ngetik balasan dengan jantung yang berdegup nggak beraturan.


“Baru banget sampai rumah. Kamu sendiri lagi apa? Tumben belum tidur?”


Nggak sampai semenit, status di bawah namanya berubah jadi typing. Terus hp ku bunyi. Dia menelpon ku.


Aku buru-buru menempelkan HP ke telinga, menahan napas biar suaraku nggak kedengeran gemetar. “Halo?”


“Hai, Lin. Capek banget ya harimu?” Suaranya kedengeran di seberang sana, renyah, khas anak kuliahan yang hidupnya tanpa beban berat. “Maaf ya kalau kemarin-kemari aku agak ilang. Jurusanku udah masuk minggu praktikum sistem produksi bener-bener kayak kerja paksa. Kepala aku mau pecah rasanya.”


“Nggak apa-apa kok, aku paham banget,” jawabku cepat, takut kalau aku kedengeran menuntut. “Jurusan ku juga lagi pusing sama tugas akhir. Kamu jangan lupa makan ya kalau sibuk.”


Dia ketawa kecil. Suara tawa yang entah gimana langsung bikin aku ngerasa seolah-olah duniaku yang sempit ini mendadak punya warna.


“Iya, Lintang. Tapi denger suara kamu gini aja rasa capek aku langsung berkurang, lho,” katanya manis. “Kamu emang beda dari cewek-cewek lain di kampusku. Kamu tuh…tenang, nggak banyak nuntut, dan selalu tahu cara bikin aku nyaman.”


Malam itu, aku resmi jatuh hati sedalam-dalamnya. Ego gilaku malam itu merasa melambung tinggi. Di dalam telepon itu, aku merasa benar-benar dipilih, merasa dihargai oleh seseorang dari kelas dunia yang kelihatan lebih ‘sempurna’ dan nyaman dibanding duniaku sendiri yang penuh beban. Kami ngobrol tentang banyak hal sampai jam dinding nunjukin angka dua subuh, mengabaikan kalau paginya aku punya tanggung jawab besar yang harus diselesaikan.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkin, lain waktu (Judulnya) P1

Ada masa di hidupku ketika aku merasa cinta adalah sesuatu yang selalu datang untuk orang lain, tapi entah kenapa melewatkanku begitu saja. Aku melihat orang-orang di sekitarku memiliki seseorang untuk diceritakan, dipeluk, atau sekedar dijadikan tempat pulang setelah hari yang panjang. Sementara aku? Aku berjalan sendiri. Kadang aku berpikir mungkin hidupku memang bukan tipe cerita romantis seperti di film-film. Tidak ada pertemuan ajaib, tidak ada seseorang yang datang membawa kepastian, tidak ada hubungan yang membuatku merasa benar-benar dipilih. Yang ada hanya aku, dengan segala pertanyaan yang semakin lama semakin sulit dijawab. “Aku belum pernah benar-benar merasakan dicintai dalam hubungan yang utuh,” kalimat itu pernah keluar begitu saja dari mulutku. Dan seperti biasa, orang-orang menanggapinya dengan heran. Ada yang bilang aku terlalu pemilih, ada yang bilang aku terlalu jelek, ada juga yang mencoba menghiburku dengan mengatakan bahwa cinta akan datang di waktu yang tepat. T...

Mungkin, lain waktu (Judulnya) P2

Dan sejak hari itu, pelan-pelan aku mulai belajar hidup tanpa terus menunggu seseorang datang untuk menyelamatkanku dari rasa sepi. Awalnya aneh. Karena selama ini aku terbiasa menganggap kebahagiaan itu akan lengkap kalau ada seseorang di sampingku. Aku pikir semua rasa kosong ini akan hilang kalau suatu hari ada yang bilang, “aku memilih kamu.” Tapi ternyata hidup tidak sesederhana itu. Aku pernah berada di fase di mana aku mencoba membuka hati hanya karena takut sendirian. Aku menerima perhatian kecil seolah itu cinta besar. Aku bertahan di percakapan-percakapan yang sebenarnya membuatku lelah hanya karena aku takut kehilangan kesempatan untuk akhirnya “punya seseorang.” Dan lucunya, semakin aku memaksa mencari cinta, semakin aku kehilangan diriku sendiri. Aku jadi orang yang terlalu banyak mengerti, terlalu banyak memaafkan, terlalu banyak menyesuaikan diri. Sampai suatu titik aku sadar… kenapa aku terus berusaha menjadi cukup untuk orang lain, tapi tidak pernah merasa cukup untuk ...

Sedikit Terlambat untuk Menjadi Kita

Apa kabar? Entah kau pernah benar-benar bertanya kabarku atau tidak, tapi hari ini aku ingin menuliskan sesuatu yang tak sempat kusampaikan dulu.  Kita tidak pernah benar-benar menjadi apa pun, ya? Bukan teman, bukan kekasih, hanya dua orang yang saling menunggu tapi tak pernah benar-benar saling mendekat. Kita seperti dua garis lurus—berjalan beriringan, tapi tak pernah saling bersinggungan.  Delapan bulan. Kita bicara hampir setiap hari. Tapi tak satu pun kata itu yang benar-benar memberi kejelasan. Tidak ada “sayang”, tidak ada “aku rindu”, hanya percakapan basa-basi yang diam-diam menyusup jadi harapan. Dan bodohnya aku, berharap dari kata yang tidak pernah mengarah. Aku menaruh hati di Tengah-tengah antara candamu yang lucu dan sikapmu yang cuek. Aku menaruh hati pada seseorang yang tidak pernah benar-benar menggenggamnya. Saat aku mulai lelah menggantungkan rasa, aku memberanikan diri bertanya: “Hubungan ini…mau dibawa ke mana?” Dan Jawabanmu masih sama: “Aku belum tahu....