Balasan dariku sore itu ternyata menjadi kunci pembuka pintu yang selama ini kupasang palang besi. Hanya dalam hitungan detik, ponselku kembali bergetar. Satu pesan, lalu dua, lalu rentetan kalimat yang membuat layar ponselku terus menyala terang, kontras dengan koridor Gedung Teknik yang mulai temaram karena ditinggalkan teman-temanku.
“Nggak apa-apa, Lintang. Aku
yang minta maaf karena waktu itu terlalu kekanak-kanakan sampai blokir kamu.
Aku cuma nggak tahu cara menghadapi rasa kecewa karena pesanku nggak dibalas.”
Kalimatnya terasa seperti obat
penenang yang manis. Dia tidak menyalahkanku secara langsung, tapi dia sedang
meletakkan beban rasa kecewa itu tepat di pundakku. Dan aku, dengan
segala rasa bersalah yang sudah menumpuk setahun lamanya, menerimanya dengan
tangan terbuka. Aku merasa seperti baru saja menemukan kembali barang berharga
yang sempat hilang, tanpa sadar bahwa barang itu sebenarnya sudah cacat sejak
awal.
Hari-hari berikutnya, poros
duniaku perlahan bergeser.
Jika sebelumnya harian duniaku
diisi dengan monitoring tugas akhir dan rapat, kini ada satu
slot waktu tak terlihat yang menyita seluruh energi: menunggu. Dia mulai
menyelinap ke sela-sela kegiatanku. Dia bertanya apakah aku sudah sahur, menanyakan
progress laporanku, hingga hal-hal remeh seperti warna pakaian apa yang
kupakai hari ini.
“Lin, kamu kok sekarang kalau
rapat matanya ke ponsel terus?” tegur Danti suatu siang, saat kami sedang
menyusun jadwal pembagian paket sembako di pelataran masjid kampus.
Aku tersentak, cepat-cepat
membalikkan layar ponselku ke atas tegel yang dingin. “Eh, tidak kok, Ti. Ini
cuma… ada donatur yang bertanya terus,” jawabku bohong, lagi.
Danti menatapku dengan mata yang
jitu dan tajam, mirip sensor presisi yang mendeteksi anomali pada sistem yang
sedang kubangun mati-matian. “Donatur atau donatur hati, nih? Hati-hati, Lin.
Jangan sampai kegiatan kita berantakan cuma karena fokusmu terbagi.”
Aku hanya tertawa kecil, tawa
yang sebenarnya hambar. Di dalam hati, aku mulai merasakan ketegangan yang
aneh. Aku merasa harus selalu siap sedia. Jika aku terlambat membalas lima
menit saja, dadaku akan terasa sesak. Aku takut dia akan menghilang lagi seperti
dulu. Takut dia akan kembali membanting pintu dan membentengi dirinya dengan
blokir yang dingin.
Tanpa sadar, aku mulai
menyesuaikan hidupku dengan ritmenya.
Aku mulai mengabaikan percakapan
seru di kelas hanya untuk membalas ceritanya tentang keluh kesah harinya. Aku
menjadi pendengar yang terlalu baik. Saat dia bilang sedang lelah dan ingin
sendiri, aku menahan diri untuk tidak mengganggunya meski aku sangat ingin
bicara. Tapi saat dia tiba-tiba butuh teman bicara di tengah malam, aku
mengorbankan waktu tidurku, padahal besok paginya aku harus bimbingan tugas
akhir dengan mata yang perih.
Aku merasa seperti sedang
membangun sebuah rumah yang indah untuknya di dalam kepalaku. Sebagai orang
yang mencintai desain, aku mengecat dindingnya dengan warna-warna yang dia suka
dan mengisi ruangannya dengan segala hal yang membuatnya nyaman. Tapi aku lupa
meninggalkan ruang untuk diriku sendiri. Aku perlahan-lahan pindah ke pojok
ruangan, meringkuk di tempat gelap, hanya agar dia bisa bersinar di
tengah-tengah duniaku.
“Kamu terlalu baik, Lintang,”
katanya suatu malam lewat sambungan telepon. Suaranya rendah dan hangat, jenis
suara yang membuatmu percaya bahwa dunia adalah tempat yang aman.
Kalimat itu, yang seharusnya
terdengar seperti pujian, justru terasa seperti rantai yang mengikatku lebih
kencang. Aku merasa harus tetap menjadi “si baik” itu agar dia tidak pergi. Aku
harus terus memaafkan setiap kali dia tiba-tiba menghilang berjam-jam tanpa
kabar, lalu muncul kembali seolah tidak terjadi apa-apa.
Setiap kali aku merasa lelah, aku
akan kembali ke pertanyaanku yang lama: Apakah aku memang belum cukup pantas
untuk dicintai dengan cara yang normal?
Dan jawabannya selalu sama: aku
akan berusaha lebih keras lagi. Aku akan menjadi versi terbaik dari diriku,
meskipun versi terbaik itu artinya adalah menghapus siapa aku sebenarnya. Aku
tidak tahu bahwa di luar sana, orang-orang melihatku mulai kehilangan warna.
Aku tidak lagi bercerita tentang hobiku membuat desain atau ambisiku
setelah lulus. Semua ceritaku sekarang adalah tentang dia.
Aku sedang berada di dalam
labirin yang wangi melati; baunya menyenangkan, namun aku tidak sadar bahwa aku
sudah tersesat terlalu jauh. Aku tidak tahu lagi jalan pulang menuju diriku
sendiri.
Rencana besar yang kami susun
berminggu-minggu akhirnya menemui titik final. Kamis malam itu, koridor Gedung Teknik
yang gerah oleh udara Jakarta menjadi saksi rapat terakhir kami. Di atas lantai yang dipenuhi coretan denah, Danti berdiri di depan aku dan teman-teman ku
dengan energi yang tidak ada habisnya.
“Oke, fiks ya semua? Divisi Logistik
sudah konfirmasi sembako aman. Besok hari Jumat sore, sepulang kuliah, kita
langsung turun ke jalan dekat kampus buat bagi-bagi takjil dan sembako. Jangan ada yang telat,” tutup Danti malam itu dengan senyum puas. Teman – teman panitia
bersorak lega. Acara bakti sosial yang dibuat secara dadakan oleh kelas ku ini
bertujuan untuk mendoakan mahasiwa-mahasiswa jurusanku agar lancar mengerjakan
tugas akhir dan lulus tepat waktu.
Teman-teman panitia bersorak
lega. Kegiatan yang selama ini dirapatkan akhirnya siap terlaksana besok sore. Di
tengah keriuhan itu, aku buru-buru memasukan laptop ke dalam tas. Fokusku malam
itu sudah menguap sejak satu jam lalu, tertinggal di dalam ponsel yang layarnya
sengaja kubalik ke bawah.
“Lin, besok kayak biasa, kan? Aku
jemput jam tiga sekalian kita angkut perlengkapan tambahan di kosan Danti,”
sebuah suara berat memecah ketergesaanku.
Tian sudah berdiri di dekat
pintu, menyampirkan jaket wibunya di bahu. Sebagai kepala divisi logistic dan
lapangan, Tian adalah orang yang paling sibuk malam ini, tapi dia selalu tahu
kapan aku ingin cepat-cepat pulang.
Sejak semester awal, Tian adalah
konstan duniaku. Kami melewati rute berangkat dan pulang kampus yang sama,
walaupun sebenarnya kalo dilihat dan diukur Tian jadi jalan lebih jauh karena
harus mengantar jemput ku, tapi entah kenapa Tian tidak pernah meninggalkan ku
sendirian, bahkan dia tidak ingin uang bensin nya aku ganti. Berbagi jok motor
yang sama melewati jalanan Jakarta yang berdebu dan padat. Bersama Tian,
semuanya selalu terasa nyata, tenang, dan dapat diprediksi.
“Eh? Iya, an. Besok jemput di
depan rumah ku ya,” jawabku, mencoba tersenyum senormal mungkin.
Tian hanya mengangguk pelan,
sepasang matanya menatapku lurus selama beberapa detik sebelum akhirnya dia
berjalan mendahuluiku ke tempat parkir.
Hari Jumat sore yang dinanti pun
tiba. Pelataran depan kampus berubah menjadi lautan sembako dan kantong-kantong
plastik berisi takjil. Udara Jakarta yang gerah perlahan melunak oleh angin
senja. Namun ritme kerja kami justru semakin cepat.
“Lin, kamu pegang lampu merah utama sama Tian, ya? Sembakonya biar diangkut pakai motor Tian,” teriak
Danti dari arah pusat logistic, suaranya nyaring mengalahkan keriuhan klakson
jalanan Jakarta.
Aku mengangguk, mencoba fokus,
meski di saku celana jinsku ponsel terasa seperti bongkahan batu panas. Sudah dua
jam sejak pesan terakhirku kukirim menanyakan apakah dia sudah dirumah dan layarnya
masih gelap. Tidak ada balasan. Setiap detiknya berlalu dengan rasa cemas yang
merayap di tengkuk, membuatku beberapa kali hampir salah menghitung jumlah
paket takjil.
"Malah bengong. Yuk, keburu
magrib," tegur Tian yang sudah menyalakan motor varionya.
Aku segera naik ke jok belakang,
memangku beberapa kantong sembako, sementara Tian menyeimbangkan kardus besar
di bagian depan motor. Kami bergerak ke titik pembagian di dekat lampu merah
luar kampus. Suasana jalanan sangat padat menjelang jam berbuka. Di tengah
hiruk-pikuk itu, aku bertugas membagikan takjil kepada para pengemudi ojek
online dan pedagang asongan, sementara Tian menurunkan kardus-kardus sembako
yang lebih berat.
Di sela-sela kesibukan itu, aku
menyadari sesuatu. Tian tidak banyak bicara sore ini, tapi sepasang matanya
tidak pernah benar-benar lepas dariku.
Saat aku hampir tersandung
undakan trotoar karena bergerak terlalu terburu-buru sambil melirik saku
celana, tangan Tian dengan sigap menahan siku belakangku. "Hati-hati, Lin.
Nggak usah buru-buru" ujarnya datar, namun genggamannya
hangat dan kokoh sebelum akhirnya dilepaskan dengan sopan.
"Iya, makasih, an,"
bisikku pelan.
Namun, perhatian Tian tidak berhenti di sana. Sorot matanya yang tenang seolah sedang memindai seluruh kegelisahanku. Dia menyadari setiap kali aku refleks meraba saku celana untuk mengecek getaran imajiner. Dia menyadari bagaimana bahuku turun dengan lesu setiap kali aku menyadari tidak ada getaran notifikasi yang masuk. Tian adalah tipe laki-laki yang membaca situasi lewat tindakan.
Ketika azan magrib akhirnya berkumandang dari pengeras suara masjid sekitar, keriuhan jalanan perlahan sedikit melonggar karena orang-orang menepi untuk membatalkan puasa. Kami menepi di bawah pohon peneduh jalan yang rindang. Tian menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya kepadaku, bersama sebungkus takjil yang sedari tadi sengaja dia simpan di kantong jaket wibunya agar tidak hancur.
"Minum dulu. Dari kemarin
pas rapat sampai sore ini, kamu kayak orang yang raganya di sini, tapi
pikirannya ketinggalan di tempat lain," kata Tian sambil mendudukkan diri
di atas pembatas jalan, menatap lurus ke arah lampu lalu lintas Jakarta yang
berganti warna.
Aku tertegun memegangi botol air
pemberiannya. "Masa, sih? Aku cuma agak capek aja, urusan tugas akhir yang
makin mepet."
"Bukan tugas akhir,"
potong Tian pendek, suaranya tenang tapi telak. Dia menoleh, menatapku dengan
mata yang selalu teduh namun kali ini terasa begitu menguliti isi kepalaku.
"Kamu nggak pernah se-nggak fokus ini kalau cuma urusan kuliah, Lin.
Biasanya kamu yang paling teliti kalau ngerjain sesuatu. Tapi hari ini... kamu
kayak lagi nungguin sesuatu yang bikin kamu takut."
Aku langsung mengalihkan
pandangan, berpura-pura sibuk meneguk air mineral yang disodorkannya.
Tenggorokanku terasa kering, bukan karena puasa, tapi karena Tian baru saja
menyentuh bagian dari diriku yang sengaja kusembunyikan rapat-rapat. Bersama
Tian, duniaku selalu terasa aman dan nyata. Dia tidak pernah memblokirku, tidak
pernah membuatku menunggu berjam-jam tanpa kabar, dan selalu ada tepat waktu
setiap kali kami berjanji untuk berangkat bersama.
Tepat saat rasa bersalah pada
Tian mulai merayap di dadaku, ponsel di sakuku tiba-tiba bergetar satu kali
pendek.
Jantungku langsung melompat.
Dengan gerakan refleks yang sangat cepat—gerakan impulsif yang mungkin terlihat
menyedihkan di mata orang luar—aku merogoh ponselku. Layarnya menyala. Sebuah
pesan masuk dari nomor itu.
“Maaf baru balas, tadi
ketiduran setelah buka puasa. Kamu lagi apa?”
Rasa sesak di dadaku mendadak
menguap, digantikan oleh kelegaaan semu yang membuatku langsung mengetik
balasan dengan cepat, melupakan takjil di tangan dan melupakan Tian yang masih
duduk di sampingku. Aku kembali masuk ke dalam labirin wangi melati itu,
mengabaikan fakta bahwa ada seseorang yang nyata di duniaku, yang sedang
menatapku dengan sorot mata kecewa yang disembunyikan di balik senja Jakarta
yang menggelap.
Komentar
Posting Komentar