Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku ingin mampir sebentar menemui diriku saat itu. Saat aku memutuskan membalas pesannya yang ternyata adalah seutas benang untuk mulai merajut lukaku sendiri.
Sore itu, koridor lantai satu Gedung Fakultas Teknik terasa seperti ruang yang kehabisan napas. Aroma sirup cocopandan dan gurihnya minyak goreng dari takjil yang dibeli teman-temanku, berebut ruang dengan bau tumpukan kertas laporan yang apak. Di ujung lorong, cahaya senja menyusup melalui jendela besar yang buram oleh debu, menciptakan garis-garis jingga yang lelah di atas lantai tegel yang dingin. Sama lelahnya dengan wajah teman-temanku; mereka yang sejak pagi berkutat dengan komponen-komponen kecil, dan sorenya masih harus mengurus persiapan acara bakti sosial jurusan.
Aku, Lintang. Duduk bersandar pada kursi plastik yang salah satu kakinya sudah mulai goyah. Di depanku, meja panjang dipenuhi gunungan gorengan dan tumpukan selebaran yang harus segera didistribusikan. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang merangkap panitia bakti sosial, hidupku belakangan ini hanya berputar di antara daftar donatur, jadwal pembagian makanan, dan kecemasan akan tugas akhir yang terus membayangi.
"Lintang! Napas dulu, dong. Jangan terlalu serius begitu, nanti cepat tua," suara Danti memecah lamunanku.
Danti, sahabatku sejak semester pertama, berdiri di sampingku sambil mengipasi wajahnya dengan selembar brosur. Dia adalah antitesis diriku. Jika aku lebih suka bersembunyi di balik layar—memastikan setiap detail desain logo dan pamflet presisi hingga milimeter terakhir—maka Danti adalah penggerak massa. Dialah yang memastikan setiap informasi sampai ke telinga seluruh mahasiswa.
“Sudah aku re-post lagi di story Instagram dan semua grup angkatan, Lin. Nomormu aku pasang paling besar sebagai contact person utama, biar mereka tidak bingung kalau mau tanya-tanya,” tambahnya dengan nada bangga.
Aku hanya mengangguk pelan, jemariku masih sibuk merapikan tumpukan kertas. Ponselku, yang tergeletak di samping tumpukan gorengan, bergetar tanpa henti. Notifikasi WhatsApp masuk silih berganti, sebagian besar menanyakan teknis pengumpulan donasi atau sekadar memastikan nomor rekening. Aku merasa seperti sebuah mesin yang sedang dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya, namun ada kepuasan aneh yang terselip di sana. Rasa dibutuhkan yang selama ini jarang kudapatkan.
Lalu, di tengah keriuhan suara teman-teman yang sedang bersenda gurau menunggu waktu berbuka, ponselku bergetar sekali lagi. Berbeda dari getaran sebelumnya yang terasa beruntun, kali ini hanya satu getaran pendek yang seolah memiliki berat yang berbeda.
Aku meraih ponsel itu. Layarnya memancarkan cahaya putih yang sedikit menyakitkan mata di tengah ruangan yang mulai temaram. Sebuah nomor tanpa nama mengirimkan pesan. Hanya satu kalimat, namun cukup untuk membuat seluruh keriuhan di koridor Gedung Teknik mendadak senyap bagiku.
"Hai, Lintang. Ternyata ini nomormu? Aku sempat pikir kita tidak akan bicara lagi setelah kejadian waktu itu."
Seketika, ingatanku tersedot kembali ke masa satu tahun lalu. Laki-laki ini muncul melalui DM Instagram, mengetuk pintu duniaku yang biasanya hanya disibukkan oleh rutinitas. Selama tiga hari—hanya tiga hari—kami bertukar pesan. Dia bertanya tentangku, tentang kesibukanku, tentang identitasku. Hal-hal kecil yang saat itu terasa seperti oase di tengah gurun tugas yang tak berujung.
Namun, aku adalah Lintang yang terlalu kaku untuk urusan perasaan. Aku membiarkan pesannya menggantung selama berjam-jam, bukan karena ingin bermain tarik ulur, tapi karena aku benar-benar tidak tahu bagaimana merespons perhatian yang datang tiba-tiba. Aku pikir dia akan mengerti bahwa aku hanya butuh waktu untuk bernapas di antara tumpukan revisi laporan magang.
Aku salah.
Tepat di hari keempat, saat aku baru saja hendak mengetik balasan, aku menemukan diriku berdiri di depan pintu yang tertutup rapat. Profilnya hilang. Akunnya lenyap. Dia tidak hanya pergi; dia membanting pintu itu kuat-kuat dengan memblokir akunku tanpa kata. Tanpa penjelasan.
Saat itu, aku merasa seperti sebuah ruangan luas yang tak pernah disapu berbulan-bulan; berdebu dan penuh sisa kursi kayu yang lapuk karena rembesan hujan—mirip gambaran rumah di Sayegan dalam buku Laut Bercerita. Aku menyalahkan diriku sendiri. Aku merasa telah menjadi orang yang terlalu sulit dipahami, orang yang dingin, dan penyebab utama dari kemarahannya yang diam.
“Lin? Kamu oke? Kok malah bengong memegang HP?” tanya Danti sambil menyenggol bahuku. Suaranya terdengar jauh, seolah ada dinding kaca tebal yang mendadak memisahkan kami.
Aku mengerjapkan mata, mencoba kembali ke kenyataan. “Eh, iya, Ti. Ini… ada yang bertanya soal donasi, tapi nomornya tidak dikenal.”
Aku berbohong. Jemariku gemetar saat mengusap layar ponsel. Pesannya masih di sana, menunggu. Kalimat "kejadian waktu itu" terasa seperti serangan verbal halus yang menyasar sisi paling rapuh dalam diriku. Dia memposisikan dirinya sebagai pihak yang ditinggalkan, padahal dialah yang memutuskan semua akses secara sepihak.
Namun, pertanyaan-pertanyaan lama itu muncul kembali: Apakah aku kurang lembut? Kurang menarik? Keinginan untuk merasa "dipilih" mendadak membuncah di tengah kesepian yang selama ini kupendam.
Aku menarik napas panjang. Aroma gorengan yang mulai dingin masuk ke paru-paruku. Di sekelilingku, teman-teman masih sibuk tertawa, mendiskusikan menu buka puasa. Aku merasa sedang berada di hadapan sebuah pintu tua dengan engsel rusak yang mengerang menderita saat dipaksa terbuka. Seharusnya aku membiarkan pintu itu tetap tertutup.
Tetapi, rasa lelah akan kesendirian memenangkan segalanya. Dengan gerakan lambat, aku mulai menyentuh papan ketik virtual.
“Hai. Iya, ini nomorku. Maaf ya buat yang dulu, aku benar-benar sibuk dengan urusan kuliah.”
Satu kalimat terkirim. Aku tidak sadar bahwa sore itu, di tengah suasana Ramadan yang seharusnya membawa ketenangan, aku justru baru saja menandatangani kontrak untuk kehilangan diriku sendiri. Aku membuka celah bagi seseorang yang nantinya akan mengubah warna hidupku menjadi abu-abu kusam seperti tembok kotor yang tak terawat.
Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah, namun detak jantungku enggan tenang. Aku menatap Danti yang sedang tertawa lebar, dan untuk sesaat, aku merasa iri. Aku iri pada kebebasannya—pada bagaimana dia tidak perlu merasa berutang pada masa lalu yang sebenarnya tidak berhak atas masa depannya.
Sore itu, saat suara azan berkumandang dari masjid kampus, aku tidak hanya berbuka puasa. Aku juga baru saja berbuka pada luka yang seharusnya tetap tertutup rapat.
Komentar
Posting Komentar