Aku terbangun pas jam lima pagi. Alarm HP di samping bantal buru-buru kumatikan, kondisi kamarku masih remang-remang, tapi aku langsung beranjak ke kamar mandi belakang dengan kepala yang sedikit pusing karena aku baru tidur dua jam yang lalu.
Aku menarik pintu kamar mandi dengan penuh super hati-hati. Pintu kayu murah itu bagian bawahnya udah lapuk, menghitam, dan keropos karena bertahun-tahun kerendam dan kena cipratan air. Kalau ditarik terlalu kencang, engsel atasnya yang udah karatan bisa jebol seketika. Di dalam, aku meraih gayung plastik yang aslinya berwarna merah, tapi sekarang warnanya udah nggak jelas—berubah jadi merah bata kusam berkerak dan menguning akibat endapan air dan usia pakai yang tidak pernah di ganti dengan yang baru. Mau disikat pakai bayclin atau disabun sampai tangan lecet sekalipun, kerak dan warna kuning itu udah mati di sana, tidak pernah bisa hilang selain memang harus menggantinya.
Dinginnya air sumur yang kuguyur ke badan rasanya bikin merinding, tapi anehnya, senyumku malah pelan-pelan muncul di balik remang kamar mandi. Rasa dingin itu kalah sama kehangatan suara di jam dua subuh tadi.
Selesai mandi, aku langsung duduk di atas dingklik kayu depan ember besar. Aku mulai mengucek baju-baju kotor kami pakai tangan, gantian bantuin Ibu sebelum beliau berangkat kerja ke perumahan elite jam tujuh nanti. Di sela-sela suara busa sabun yang kuperas, aku menyempatkan diri buat mengelap tangan ke daster, mengambil HP di tempat penyimpanan sikat gigi dan sabun yang sedari sebelum mandi aku letakan disana, aku membuka whatsapp lalu mengetik “Pagi! Aku udah bangun nih. Semangat ya buat hari Sabtunya!”
Hari itu, aku mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan ritme yang jauh lebih ringan. Aku menemani adek sarapan nasi goreng sisa semalam yang dihangatkan Ibu, sambil mendengarkan dia ngedumel soal hafalan ujian SMA-nya senin besok. Tapi fokusku sebenarnya cacat. Tiap sepuluh menit sekali, mataku nggak lepas melirik ke arah HP di atas meja makan. Nggak ada getaran sama sekali.
Sampai jam dua siang, status pesanku masih centang dua abu-abu. Rasa cemas udah mulai merayap tipis-tipis di tengkuk, bikin aku bolak-balik ngecek koneksi internet rumah yang kadang emang suka mengecewakan.
Pas jam tiga sore, akhirnya HP di atas kasur bergetar panjang. Jantungku rasanya mau copot. Ada dua pesan masuk, bareng satu kiriman foto yang loading-nya berjalan lambat.
“Eh maaf baru ngabarin, Lin. Ini aku lagi di jalan ke Jogja bareng teman-teman SMP ku. Dadakan banget berangkatnya.”
Begitu foto di bawahnya terunduh penuh dan terbuka lebar memenuhi layar, napas pas-pasan yang kutahan dari pagi rasanya berhenti seketika.
Ini foto dari dia. Berdiri di depan sebuah kedai kopi pinggir jalan dengan jaket cokelat muda yang hampir dipenuhi bordir tempel atau emblem vintage, rambutnya ikal berantakan tertumpuk tebal diatas dan tipis disamping, dia tersenyum tipis menatap lurus ke arah kamera. Ganteng banget
Ini pertama kalinya aku melihat wajah full-nya secara jelas. Selama ini, duniaku tentang dia cuma dibangun dari sebatas baris kanan dan kiri ketikan di whatsapp dan suara beratnya tiap kali kami teleponan tengah malam. Aku nggak pernah tahu secara pasti struktur rahangnya, bentuk matanya pas lagi ketawa, atau gimana potongan rambutnya. Melihat foto itu, bayangan abstrak yang kubangun di dalam kepala mendadak punya wujud yang nyata. Dan wujud itu berhasil bikin aku jatuh sejauh-jauhnya.
Rasa kesal karena dikabari telat langsung hilang nggak berbekas. Rasa mual karena nungguin dari subuh mendadak berganti jadi euforia gila yang bikin mukaku panas. Aku menatap foto itu lama banget, senyum-senyum sendiri di sudut kamar kayak orang dengan gangguan jiwa tingkat awal.
Aku buru-buru mengetik balasan dengan jemari agak gemetar: “Wah, seru banget ke Jogja! Hati-hati di jalan yaa disana.”
Tapi setelah aku membalas pesannya, dia hilang lagi. Chat-ku cuma dibaca, centang dua biru tanpa ada balasan kelanjutan. Hari Sabtuku berakhir sepi, dan sepanjang hari Minggu pun lewat kayak siksaan yang panjang. Dia kayak sengaja melempar umpan, membiarkanku kelaparan, lalu menghilang begitu saja. HP sengaja kuheningkan karena nggak ada kabar sama sekali dari Jogja.
Baru pas menjelang hari Minggu tengah malam, waktu aku udah pasrah dan mau tidur, HP di atas meja belajar bergetar sekali. Pendek. Dari dia lagi.
“Linnnnn, maaf baru balas lagi. Di Jogja sinyalnya naik turun pas di rumah neneknya Khoir, terus hp-ku sempat mati total juga dari kemarin karena lupa bawa chargeran. Kamu besok kuliah jam berapa?”
Aku menatap baris kalimat itu lama. Di sudut benakku, logikaku tahu kalau aku lagi dibohongi. Anak zaman sekarang mana mungkin bisa bertahan seharian tanpa menyentuh HP atau minjem charger temannya? Tapi anehnya, rasa sesak yang menumpuk di dadaku dari kemarin langsung hilang begitu saja. Digantikan oleh rasa lega yang instan.
Aku menghembuskan napas, mengabaikan semua kebohongan yang nyata banget di depan mata. Jemariku langsung mengetik balasan secepat mungkin, berpura-pura seolah-olah semuanya baik-baik saja demi menjaga agar dia tidak risih dengan ku dan menjauh.
“Nggak apa-apa kok, santai aja. Besok aku masuk jam delapan pagi, ada praktikum.”
Hari Seninnya, Jakarta kembali ke setelan pabrik: panas, macet, dan bising.
Vario Tian berhenti di parkiran kampus. Aku turun dari jok belakang, menyerahkan helm hitam ke tangannya. Sejak kejadian malam Sabtu kemarin pas dia mengantarkan aku pulang, suasana di antara kami berdua mendadak punya sekat transparan yang canggung.
“Makasih ya, an,” kataku, agak ragu buat menatap matanya.
Tian menerima helm itu, mengaitkannya ke spion motor dengan gerakan pelan. Laki-laki itu cuma menatapku lurus, matanya teduh tapi seperti ada yang sengaja dia tutup rapat-rapat.
“Nanti pulangnya jam berapa, Lin?” Tanya Tian tenang. Suaranya biasa, tapi aku bisa merasakan ada jarak yang sengaja dia buat.
“Lho kan kita sekelas, pulangnya pasti sama kan” jawabku dengan tenang.
“Emangnya ga makan ayam geprek andalan itu dulu sama cewek-cewek” tanya Tian.
“Kayaknya engga deh, an. Tapi aku mau pulang sore bareng Danti karena ada hal yang harus kita bicarakan,” jawabku bohong. Sebenarnya aku cuma nggak mau membuat Tian makin repot.
Tian terdiam beberapa detik, lalu tersenyum tipis—jenis senyum paling getir yang bikin hatiku mendadak rasanya perih karena bersalah. “Ya udah. Kalau nanti berubah pikiran atau butuh tebengan, kabari aja. Aku stand-by di bengkel jurusan sampai jam lima,” kata Tian.
Tian berjalan menuju kantin karena teman-teman satu circle nya sudah menunggu.
Aku berjalan di koridor kampus menuju kelas. Danti yang sudah sedari tadi sampai duluan di kampus menghampiri mengajakku mengobrol, tapi nggak ada satu pun kalimatnya yang nyangkut di kepalaku. Pandanganku lurus ke depan, tapi pikiranku malah statis di ruang obrolan whatsapp yang masih sepi dari semalam. Aku benar-benar gila nungguin kelanjutan kabar dari cowok itu.
Dunia dia yang bebas, bisa liburan dadakan ke Jogja bareng teman-temannya, kelihatan kontras banget sama hidupku yang serbasulit. Ego gilaku berharap dia bisa jadi pintu keluar. Aku pengen ditarik masuk ke dunianya yang kelihatan nyaman itu.
Drrrtt.
Ponsel di dalam kantong almamaterku bergetar sekali. Jantungku langsung berdegup kencang. Di bawah meja kuliah, aku buru-buru merogoh HP, mengabaikan Danti yang sempat melirikku heran dari kursi sebelah.
Satu pesan baru dari dia.
“Lin, maaf ya aku baru pegang hp lagi. Hari ini jadwal padat banget setelah balik dari Jogja. Kebetulan minggu depan di kampusku udah mulai pengumpulan judul Tugas Akhir, kayaknya seminggu ke depan dan ketika aku ngerjain Tugas Akhir aku bakal jarang pegang hp dulu ya, Lin. Mau fokus kelulusan dulu.”
Mataku terpaku menatap layar. Rasa mual karena cemas dari kemarin nggak bener-bener hilang, malah digantikan sama rasa kecewa yang bikin dadaku amblas. Kami berdua ini posisinya sama. Sama-sama mahasiswa semester akhir yang lagi megap-megap dikejar Tugas Akhir demi bisa lulus tepat waktu tahun ini. Tapi entah kenapa, sesibuk apa pun aku dengan TA dan urusan lainnya, aku selalu menyempatkan diri buat curi-curi waktu membalas chat dia. Sementara bagi dia, kesibukan TA seolah-olah jadi tombol otomatis buat bikin aku nggak ada harganya. Dia bersiap buat menarik dirinya lagi jauh-jauh, memberi peringatan awal kalau dia bakal menghilang atas nama masa depan.
“Ohh iya nggak apa-apa kok, semangat ya buat Tugas Akhirnya! Semoga lancar bab empatnya, jangan lupa makan ya kalau begadang.”
Aku menekan tombol kirim, lalu membalikkan layar ponselku menghadap meja kuliah. Aku kembali masuk ke labirin yang sama, sengaja membiarkan diriku digantung dalam ketidakpastian seminggu ke depan. Aku milih menutup mata dari kenyataan kalau di luar ruangan kelas ini, Tian—yang juga lagi pusing-pusingnya mikirin TA arus kuatnya sendiri—mungkin lagi sibuk di bengkel jurusan dengan tangan penuh oli, masih sempat-sempatnya mikirin cara buat mengajakku pulang bareng sore nanti tanpa membuatku merasa canggung.
Kuliah sore itu akhirnya bubar. Begitu dosen melangkah keluar kelas, aku langsung merapikan buku catatanku dengan gerakan lambat. Kepalaku rasanya penuh dan berat, masih statis memikirkan balasan chat dari luar kota tadi siang yang bilang kalau dia mau menghilang seminggu ke depan buat fokus Tugas Akhir.
"Lin, ke gazebo taman yuk bentar. Ngadem," ajak Danti sambil menepuk bahuku.
Aku mengangguk pelan. Kami berdua berjalan menyusuri koridor Gedung Teknik yang mulai sepi, menuju gazebo yang letaknya agak di pojok taman kampus. Suasana sore di Politeknik ini lumayan teduh karena rimbun pohon mahoni, walau udara Jakarta tetap terasa gerah.
Kami duduk bersila di atas bilah bambu gazebo yang sudah agak licin. Di seberang taman, lamat-lamat kedengaran suara bising dari arah bengkel jurusan. Suara itu mendadak bikin dadaku agak sesak karena teringat satu kenyataan pelik: bulan lalu, setelah draf judul TA kami masing-masing di-ACC, pihak jurusan langsung membagi mahasiswa ke dalam beberapa kelompok kecil buat bikin alat bareng. Dan dari sekian banyak orang, takdir bercanda dengan menaruh namaku sekelompok dengan Tian.
Prototipe sistem kendali arus kuat yang jadi penentu kelulusan kami sekarang ada di bengkel itu. Artinya, mau nggak mau, aku harus sering ngebengkel dan bimbingan bareng Tian.
"Lin, kamu beneran nggak apa-apa? Dari pas praktikum tadi mukamu ditekuk terus," tanya Danti memecah lamunanku. Matanya menatapku jitu, tipe mata sahabat yang nggak bisa dibohongi.
Aku menunduk, memainkan ritsleting tas ranselku yang sudah mulai dol. Menahan semuanya sendiri dari hari Sabtu kemarin rasanya bikin sesak banget. Pikiran tentang rumah yang sepi, Ibu yang kecapekan kerja jadi ART, ditambah sikap cowok itu mendadak bikin aku lelah.
"Ti..." panggilku pelan, suaranya agak serak. "Sebenarnya... cowok yang setahun lalu blokir aku itu ngechat lagi."
Danti yang tadinya mau membuka botol minum langsung mengurungkan niatnya. "Hah? Sekala si cowok Teknik Industri luar kota itu?"
Aku cuma mengangguk lemah.
"Terus kamu balas?" suara Danti naik satu oktav.
"Aku balas, Ti. Malah... kemarin Sabtu dia ngirim foto full mukanya buat pertama kali. Dia ganteng banget," bisikku, ada nada bodoh yang terselip di suaraku sendiri, mengakui kalau aku sudah kalah telak hanya karena selembar gambar digital. "Tapi abis itu dia bilang minggu depan mau fokus draf TA juga dan bakal jarang pegang HP. Aku ngerasa konyol banget, Ti. Aku tahu dia kayak sengaja tarik ulur, tapi aku tetep aja nungguin."
Danti menghembuskan napas panjang, bersandar ke tiang gazebo sambil menatap langit sore yang mulai jingga. "Lintang, Lintang... kamu tuh ya, pinter kalau urusan ngerangkai komponen, tapi kalau urusan ginian kenapa bego banget, sih? Kamu tuh kayak sengaja nyerahin diri buat disakitin lagi tahu nggak?"
Obrolan kami mengalir terus, lebih banyak diisi dengan omelan Danti yang gemas melihat kebodohanku, dan aku yang cuma bisa diam karena tahu apa yang dia bilang itu seratus persen benar. Tanpa sadar, matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya.
"Eh, udah mau magrib nih, Lin. Yuk balik," kata Danti sambil mengecek jam di pergelangan tangannya.
"Aduh, adekku udah nge-wa nih, katanya udah di depan gerbang utama."
"Kamu dijemput, Ti? Nggak bawa motor?" tanyaku sambil ikut merapikan barang-barang ke dalam tas.
"Nggak, hari ini motor dipakai Bapak. Ini adekku searah balik sekolah sekalian jemput. Kamu balik naik apa? Bareng Tian?"
Aku menggeleng cepat. "Nggak, Tian tadi bilangnya masih mau stand-by di bengkel jurusan. Aku mau naik bis kampus aja yang ke arah stasiun."
"Ya udah, aku duluan ya, Lin. Pikirin lagi omongan aku tadi. Jangan mau dibego-begoin!" seru Danti sambil setengah berlari meninggalkan gazebo.
Begitu Danti hilang dari pandangan, suasana taman kampus mendadak terasa sunyi banget. Aku berjalan sendirian menuju halte bis kampus yang ada di dekat gerbang samping. Tapi begitu sampai di sana, halte itu kosong melompong.
Aku baru ingat, ini sudah lewat jam lima sore. Bis kampus yang biasanya mengantar mahasiswa ke stasiun commuter line terdekat sudah habis dari setengah jam lalu. Bukan jadwalnya lagi.
Aku berdiri termangu di tepi jalan aspal kampus yang mulai sepi. Pilihan satu-satunya cuma jalan kaki sampai stasiun. Jaraknya lumayan, sekitar lima belas menit ngelewatin jalanan luar kampus yang trotoarnya bolong-bolong dan penuh debu sisa proyek galian. Aku membetulkan posisi tali ranselku yang terasa berat karena bawaan laptop kuliah, lalu mulai melangkah keluar gerbang.
Baru berjalan sekitar beberapa ratus meter di pertengahan jalan raya luar kampus—tepat di dekat deretan ruko kelontong yang lampunya baru dinyalakan—sebuah motor Vario melambat di sampingku.
Suara mesinnya yang halus sangat kukenal.
Aku menoleh. Tian di sana. Dia sudah melepas almamaternya, menyisakan kaos hitam polos dan jaket wibunya yang dibiarkan terbuka. Tangannya agak kotor kena noda hitam, tipikal anak elektro yang habis bongkar dinamo.
Tian membuka kaca helmnya, menatapku yang lagi jalan kaki sendirian di atas trotoar dengan keringat tipis di dahi.
"Katanya tadi mau bareng Danti, ini kok sendirian?” kata Tian tenang, suaranya datar tapi matanya nggak bisa bohong kalau dia lagi memastikan keadaanku. Dia mematikan mesin Varionya, menstandar motor itu di pinggir jalan raya yang bising, lalu menatapku lekat-lekat.
"Bis kampus udah habis dari jam lima tadi, Lin. Kamu mau jalan kaki sampai stasiun sendirian jam segini?"
Aku terpaku di pinggir trotoar, menatap ujung sepatu kuliahku yang sudah mulai kusam. Bohong lagi, ketahuan lagi. Rasanya malu dan makin merasa bersalah, apalagi kalau ingat alat Tugas Akhir kami yang masih setengah jadi di bengkel jurusan itu separuh nyawanya ada di tangan Tian. Tian nggak nunggu balasan dari mulutku yang mendadak terkunci. Dia turun dari motor, lalu berjalan mendekat ke arahku. Langkah kakinya kedengeran pelan di atas tegel trotoar yang retak. Begitu jarak kami cuma tiga puluh centimeter, Tian nggak langsung mengomel. Dia malah mengulurkan tangan besarnya, meraih dua tali ransel di bahuku, lalu dengan gampang memindahkan tas laptop yang super berat itu ke pundaknya sendiri.
"Tas seberat ini kok digendong jalan kaki. Bahumu bisa geser, Lintang," katanya pelan. Suaranya nggak ketus sama sekali, malah terdengar sangat teduh di antara bisingnya suara klakson jalanan Jakarta sore itu.
Dia berbalik ke motornya, mencantolkan tas ranselku di bagian depan Vario, lalu mengambil helm hitam cadangan yang selalu dia bawa. Tian nggak cuma menyodorkan helm itu begitu saja ke tanganku. Laki-laki itu melangkah lagi mendekat, memasangkan helm itu ke kepalaku dengan sangat hati-hati, seolah takut pinggiran helmnya bakal menggores dahiku.
Jari-jarinya yang agak kasar karena sering terkena solderan itu bergerak pelan menyelipkan tali helm di bawah daguku, lalu mengaitkannya sampai berbunyi klik. Setelah itu, dia menepuk bagian atas helmku sekali, pelan banget.
"Nggak usah sok kuat mau jalan kaki ke stasiun. Udah mau magrib, jalanan luar sini rawan kalau sendirian," kata Tian, matanya menatap lekat ke manik mataku. Ada pendar lampu ruko kelontong yang mantul di matanya, membuat sorot matanya kelihatan hangat banget.
"Tapi, an... rute rumahmu kan berlawanan jauh. Kamu tadi katanya mau lembur di bengkel buat nyelesein rangkaian alat kita?" tanyaku pelan, mendongak menatap tangannya yang masih ada sisa noda hitam bekas bongkar dinamo tadi.
Tian tersenyum tipis—jenis senyum tenang yang selalu berhasil bikin aku ngerasa aman. Dia merogoh kantong jaket wibunya, mengeluarkan selembar tisu basah kecil, lalu menyerahkannya ke tanganku.
"Rangkaian udah aku bungkus rapi di loker. Kan tugas kelompok, masa aku tega ngerjain sendirian tanpa kamu? Nanti kamunya nggak pinter," goda Tian, berusaha mencairkan kecanggunganku. Dia berjalan balik ke motor, menyalakan mesin Vario-nya, lalu menoleh ke belakang. "Nih, sekalian lap dulu dahimu, keringatan gitu. Ayo naik, keburu makin macet di depan."
Aku menyeka keringat di pelipis pakai tisu pemberian Tian, lalu naik ke jok belakang. Begitu motor bergerak membelah aspal Jakarta, Tian sengaja nggak menarik gasnya kencang-kencang. Dia berkendara dengan sangat halus, selalu ngerem pelan-pelan tiap kali ada lubang jalan atau polisi tidur di depan, seolah dia bener-bener menjaga supaya aku di belakang nggak terguncang atau menabrak punggungnya.
"Lin, kalau ngantuk pegangan jaket aku aja ya, atau pegangan besi belakang. Jangan dilepas tangannya," setengah berteriak, suara Tian kedengaran di sela angin sore.
Aku mencengkeram besi belakang motor Varionya erat-erat. Di depan, punggung Tian yang lebar kelihatan kayak benteng yang siap melindungi aku dari kerasnya jalanan Jakarta. Laki-laki ini tahu aku berbohong soal urusanku dengan Danti. Dia pasti tahu ada sesuatu yang lagi menyita fokusku sampai kuliah dan TA kami agak berantakan.
Tapi hebatnya Tian, dia nggak mendesakku, nggak menuntut penjelasan yang bakal bikin aku makin tersudut. Dia cuma milih buat ada di sini, memastikan aku nggak kesusahan.
Di dalam kantong almamater, HP-ku terasa dingin dan diam. Sisi logisku berteriak, membandingkan perlakuan nyata Tian sore ini dengan Sekala yang bahkan dari siang tadi cuma membaca chat-ku tanpa balasan. Sekala itu nggak akan pernah ada di sini buat membawakan tasku yang berat atau memastikan aku nggak jalan kaki sendirian menjelang magrib.
Motor Vario Tian terus membelah jalanan yang makin padat. Lampu-lampu mobil dan motor di sekitar kami mulai menyala terang, berkejaran dengan azan magrib yang lamat-lamat mulai berkumandang dari pengeras suara masjid di pinggir jalan. Tiba-tiba, Tian melambatkan laju motornya dan berbelok ke kiri, melipir ke pelataran parkir sebuah warung gerobakan fried chicken lokal yang aromanya langsung menusuk hidung. Asap penggorengannya mengepul tipis di bawah lampu neon putih yang agak berkedip.
"Bentar ya, Lin. Ada yang mau aku beli dulu," kata Tian sambil mematikan mesin motor.
Aku cuma mengangguk dan turun dari jok, berdiri di samping motor sambil memandangi Tian yang berjalan ke arah etalase kaca penuh tumpukan ayam goreng tepung yang masih hangat. Aku mengira dia lapar karena belum sempat makan setelah seharian ngebengkel di kampus.
Dari tempatku berdiri, aku melihat Tian berbicara dengan abang penjualnya, menunjuk beberapa potong ayam, lalu merogoh dompetnya. Nggak butuh waktu lama sampai abang itu menyerahkan satu kantong plastik putih berlogo ayam kartun yang uap hangatnya kelihatan menembus plastik. Tian berjalan kembali ke arahku sambil menenteng kantong itu. Bukannya digantung di jepitan motor, kantong plastik itu malah disodorkan tepat di depan dadaku.
"Nih, bawa," kata Tian santai.
Aku mengerutkan kening, bingung. "Buat aku? Kan aku nggak titip, an. Lagian ini banyak banget, ada tiga potong?"
Tian terkekeh pelan, matanya menyipit ramah di balik kaca helmnya yang dinaikkan. "Bukan buat kamu sendiri, Lintang. Itu pas tiga potong. Satu buat kamu, satu buat Ibu, satu lagi buat Adek. Tadi pas lewat, aku inget Adekmu pernah bilang suka banget sama kulit ayam goreng yang garing begini. Kebetulan ini baru matang, mumpung masih anget buat lauk makan malam di rumah." Aku terpaku memandangi kantong plastik di tanganku. Rasanya ada sesuatu yang mendadak menyumbat tenggorokanku, hangat tapi bikin mataku perih.
Tian nggak cuma memikirkan aku. Di tengah kesibukannya mengurus draf Tugas Akhir kami, di tengah lelahnya dia habis mengerjakan rangkaian, kepala Tian masih punya ruang untuk memikirkan Ibu dan Adekku. Dia tahu persis kondisi rumahku. Dia tahu kalau lauk instan seperti ini bakal sangat berarti buat mengurangi beban Ibu memasak setelah pulang kerja dari rumah orang kaya dengan kaki yang pincang.
Perhatian Tian terlalu detail. Terlalu nyata sampai-sampai rasanya dadaku sakit karena rasa bersalah yang makin menumpuk tinggi. Cowok se-green flag ini ada di depanku, memperlakukan aku dan keluargaku seperti bagian dari hidupnya sendiri tanpa pernah menuntut imbalan apa pun, bahkan uang bensin sekalipun.
"Kok malah bengong? Pegang yang bener, awas jatuh. Yuk naik lagi, keburu ayamnya dingin," tegur Tian lembut, menepuk pucuk helm hitamku sekali lagi buat menyadarkanku.
"An... makasih banyak ya. Kamu repot terus," bisikku pelan sambil naik kembali ke jok belakang, mendekap kantong plastik hangat itu di depan dadaku.
"Kaya sama siapa aja, Lin. Santai," sahut Tian dari balik kemudi, sebelum menarik gas Vario-nya perlahan, kembali membelah malam Jakarta yang mulai merayap naik.
Di sepanjang sisa jalan menuju rumah, aku cuma bisa diam memandangi punggung lebar Tian. Di dalam kantong almamater, ponselku bergetar sekali lagi. Pendek. Aku tahu itu pasti chat dari luar kota yang baru sempat membalas draf obrolan kami tadi siang. Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya, tanganku ngerasa enggan buat merogoh kantong. Aku milih mendekap erat kantong ayam goreng pemberian Tian, mencoba menikmati kehangatan nyata yang sedang berjalan mengantarku pulang, meski aku tahu labirin di kepalaku masih belum sepenuhnya runtuh.
Komentar
Posting Komentar